Agar doa kita dikabulkan Allah

1. Berdoa hanya kepada Allah saja; dengan ikhlash (menjauhi segala bentuk kesyirikan dalam berdoa)

Allah berfirman:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina

(Ghaafir: 60)

Allah berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…

(Al-Bayyina: 5)

Allah berfirman:

قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَّهُ دِينِي

Katakanlah: “Hanya Allah saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”.

(Az-Zumar: 14)

Dan seorang MUSLIM, paling tidak membaca firmanNya berikut 17x dalam sehari:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

HANYA KEPADAMU KAMI BERIBADAH, dan hanya kepadamu kami memohon pertolongan

(Qs Al Faatihah: 5)

Maka dalam hal ini,

1. Kita diperintah untuk berdoa kepada Allah, dan tidak berdoa kepada selainNya, tidak pula menyertakan sekutu bagiNya ketika berdoa.

2. Orang-orang yang menyombongkan diri untuk berdoa (menyembah) kepada Allah, maka ia diancamkan neraka.

3. Termasuk orang-orang yang menyombongkan diri adalah orang-orang yang tidak pernah menyembah Allah, tidak pernah berdoa kepadaNya, serta merasa cukup pada dirinya sendiri.

4. Termasuk pula orang-orang yang menyombongkan diri adalah orang-orang yang menyembah selain Allah. Yaitu menyeru kepada malaikat, menyeru kepada nabi-nabi, menyeru kepada orang-orang shalih atau dianggap shalih, menyeru kepada kuburan, menyeru kepada dewa-dewa, patung-patung, dan lain-lain.

5. Termasuk pula orang-orang yang menyombongkan diri adalah orang-orang yang menyembah Allah, tapi menyertakan sesembahan lain selainNya. Yaitu, disamping ia berdoa kepada Allah, ia pun berdoa kepada selainNya.

6. Adapun orang yang benar dalam berdoa adalah orang yang hanya berdoa kepada Allah saja, tidak berdoa kepada selainNya, tidak pula mengadakan sekutu bagiNya ketika berdoa, tidak pula ia berdoa hanya untuk dilihat atau didengar manusia atau untuk mencari popularitas, kekayaan, kekuasaan dll. Namun ia berdoa karena kebutuhannya kepada Allah, ikhlash karenaNya.

2. Berdoa dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam

Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada perintahnya maka perkara itu tertolak”.

(HR. Bukhariy)

Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada dasar dari kami maka amalan itu tertolak.”

(HR. Muslim)

Dalam berdoa kita harus menempuh CARA YANG BENAR, sebagaimana dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Sesungguhnya tuntutnannya dalam beragama TELAH TERCUKUPI. Tidak perlu bagi kita MENG-ADA-ADAKAN TATA-CARA tersendiri, sehingga kita menyelisihi beliau, dan merasa berbuat lebih baik dari beliau. Wallahul Musta’aan.

3. Berdoa dengan serius, bersungguh-sungguh dan membesarkan harapannya

Rasulullah bersabda:

إِذَا دَعَوْتُمُ اللهَ فَاعْزِمُوْا فِي الدُّعَاءِ

“Apabila seseorang dari kamu berdoa kepada Allah, maka bersungguh-sungguhlah

وَلا يَقُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ

dan JANGANLAH ia mengucapkan :

إِنْ شِئْتَ فَأَعْطِنِيْ

“Jika engkau menghendaki, maka berilah aku”

فَإِنْ اللهَ لا مُسْتَكْرِهَ لَهُ

karena Sesungguhnya Allah tidak ada yang memaksa-Nya”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 7026; Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/01/waktu-waktu-mustajab-untuk-berdoa.html%5D

Dalam riwayat Muslim:

وَلَكِنْ لِيَعْزِمْ الْمَسْأَلَةَ وَلْيُعَظِّمْ الرَّغْبَةَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ

“…akan tetapi hendaklah ia serius dalam meminta dan besarkanlah pengharapannya, karena sesungguhnya Allah tidak merasa berat karena sesuatu yang Dia berikan”

(HR. Muslim)

4. Berdoa dengan keadaan YAKIN akan dikabulkan doa tersebut

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

‎ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan”

[at Tirmidziy, dihasankan syakh al-albaaniy dalam shahiih at tirmidizy (no. 3479)]

5. Berdoa dalam keadaan khusyu’/fokus, yaitu dengan hati yang tidak lalai, merendahkan diri, rasa takut tidak dikabulan, dan rasa harap dikabulkan doa

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

‎وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاه

“dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.”

[at Tirmidziy, dihasankan syakh al-albaaniy dalam shahiih at tirmidizy (no. 3479)]

Allah berfirman tentang keluarga Zakariyya ‘alayhis salaam:

وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.

(Al-Anbiyaa: 90)

6. Berdoa pada waktu yang mustajab, atau kondisi yang mustajab

Berkaitan dengan waktu yang mustajab

– Sepertiga malam

Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي كُلِّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا ، حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخَرُ ، فَيَقُولُ

“Rabb kita turun pada setiap malam ke langit dunia saat tersisa sepertiga malam yang terakhir. Lalu Ia berfirman :

مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ ؟

‘Siapa saja yang berdoa kepada-Ku? niscaya akan Aku kabulkan, siapa saja yang meminta kepada-Ku? niscaya akan Aku berikan. Siapa saja yang meminta ampun kepada-Ku? niscaya akan Aku ampuni”

(HR. Bukhariy)

– Pada hari jum’at

Rasulullah bersabda:

فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا ، إِلَّا أَعْطَاهُ

“Pada hari Jum’at terdapat satu saat yang tidak ada seorang muslim pun yang bertepatan berdiri melakukan shalat dan memohon kepada Allah kebaikan, kecuali Allah akan memberikannya”. Beliau berisyarat dengan tangannya. Kami (perawi) mengartikan bahwa beliau mengisyaratkan sebentarnya waktu itu

(HR. Bukhariy)

Dalam kesempatan lain beliau bersabda:

يَوْمُ الْجُمُعَةِ ثِنْتَا عَشْرَةَ يُرِيدُ سَاعَةً ، لا يُوجَدُ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إلا أَتَاهُ اللَّهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

“Hari Jum’at itu ada 12 – maksudnya adalah 12 jam – yang tidaklah seorang seorang muslim didapati sedang meminta (berdoa) sesuatu kepada Allah ta’ala kecuali Allah ‘azza wa jalla akan mengabulkannya. Maka, carilah ia di akhir waktu setelah ‘Ashar”.

[Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 1048 dan An-Nasaa’iy 3/99-100. Dishahihkan oleh Al-Albaniy, dalam Shahih Sunan Abi Dawud 1/290; Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/01/waktu-waktu-mustajab-untuk-berdoa.html%5D

– Bulan Ramadhan

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ عُتَقَاءَ فِي كُلِّ يَوْمٍ ، وَلَيْلَةٍ لِكُلِّ عَبْدٍ مِنْهُمْ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ

“Sesungguhnya setiap hari [dibulan ramadhan, ed]Allah membebaskan (beberapa hamba-Nya yang muslim dari api neraka) dari api neraka. Setiap muslim yang berdoa (di waktu tersebut) pasti akan dikabulkan”.

[Diriwayatkan oleh Ahmad 2/254 dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 8/257; dishahihkan oleh Al-Arnauth dalam ta’liq-nya atas Musnad Ahmad; Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/01/waktu-waktu-mustajab-untuk-berdoa.html%5D

Berkaitan dengan kondisi

– Saat terbangun pada malam hari, dari tidur yang sebelumnya dalam keadaan suci

Rasulullah bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَبِيتُ عَلَى ذِكْرِ اللَّهِ طَاهِرًا فَيَتَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ , فَيَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ , إِلَّا أَعْطَاهُ

“Tidaklah seorang muslim yang tidur dalam keadaan berdzikir lagi suci, lalu ia terbangun di malam hari dan memohon (berdoa) kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat, niscaya Allah akan memberikannya”

[Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 5042, An-Nasa’iy dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah no. 805-806, Ibnu Majah no. 3881; dishahihkan oleh Al-Albaniy dalam Shahih Abi Dawud 3/239; Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/01/waktu-waktu-mustajab-untuk-berdoa.html%5D

Dalam kesempatan lain beliau bersabda:

مَنْ تَعَارَّ مِنْ اللَّيْلِ فَقَالَ

Barangsiapa yang terbangun dimalam hari, kemudian mengucapkan:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ،

Laa ilaaha illallah, wahdahu laasyariikalah

Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya

لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

Lahul mulku wa lahul hamdu, wahuwa ‘ala kulli syay-in qadiir

Milik-Nya kerajaan dan milik-Nya segala puji dan Dia Maka Kuasa atas segala sesuatu.

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ،

subhanallah, wal hamdulillah, wa laa ilaaha illallah wallahu akbar

Maha Suci Allah, dan segala puji hanya milik Allah, dan tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan Allah Maha Besar

وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ،

wa laa hawla wa laa quwwata illa billah

Dan tidak ada daya upaya (untuk melakukan ketaatan) dan tidak ada kekuatan (untuk meninggalkan kemaksiatan) kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

—-

ثُمَّ قَالَ

Kemduian berkata:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

Allahummaghfirliy

Ya Allah, Ampunilah aku…

(dalam riwayat lain:

رَبِّ اغْفِرْلِيْ

rabbighfirliy

Ya rabbku, ampunilah aku!
)

غُفِرَ لَهُ

Maka (dosanya) diampuni

أَوْ دَعَا

atau berdoa

اسْتُجِيبَ لَهُ

Maka akan diijabah doanya

فَإِنْ تَوَضَّأَ وَصَلَّى قُبِلَتْ صَلَاتُهُ

Jika ia berwudhu kemudian shalat, maka shalatnya diterima.

(HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baarii 8/237, Muslim 1/530, Tirmidziy, Ibnu Maajah, Abu Dawud, Ahmad, ad Darimiy dan lainnya)

– Saat adzan dikumandangkan

Rasulullah bersabda:

ثِنْتَانِ لَا تُرَدَّانِ أَوْ قَلَّ : مَا تُرَدَّانِ : الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ

Ada dua hal yang tidak akan ditolak atau jarang ditolak : “Doa saat adzan……”

[Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 2540 dan dishahihkan oleh Al-Albaniy dalam Shahih Sunan Abi Dawud 2/108]

– Antara adzan dan iqamah

Rasulullah bersabda:

لا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Tidaklah ditolak doa yang diucapkan antara adzan dan iqamat”.

[Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 521 dan At-Tirmidziy no. 212; dishahihkan oleh Al-Albaniy dalam Shahih Sunan Abi Dawud 1/156; Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/01/waktu-waktu-mustajab-untuk-berdoa.html%5D

– Saat sujud

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

أقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ؛ فَأَكْثِرُوْا الدُّعَاءَ

“Kondisi seorang hamba paling dekat dengan Robnya tatkala ia sujud, maka perbanyaklah doa”

(HR Muslim no 215)

Beliau juga bersabda:

‎وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

Saat sujud, sungguh-sungguhlah dalam berdo’a, kemungkinan besar do’amu dikabulkan’,”

(HR Muslim [479])

Sujud disini TIDAK DIKHUSUSKAN sujud terakhir, maka TIDAK BOLEH kita mengkhususkannya di sujud terakhir.

– Saat diguyur hujan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

ثنتان ما تردان ‪…‬ وَتَحْتَ الْمَطَرِ

“Ada dua hal yang tidak akan ditolak : … dan saat diguyur hujan”

[Diriwayatkan oleh Al-Haakim 2/124, Al-Baihaqiy 3/360, Abu Dawud no. 2540, dan Ar-Ruwiyaaniy no. 1047; dihasankan oleh Al-Albaniy dalam Shahiihul-Jaami’ no. 3078; Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/01/waktu-waktu-mustajab-untuk-berdoa.html%5D

– Saat mendengar ayam jantan berkokok dimalam hari

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

إِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ مِنَ اللَّيْلِ ، فَإِنَّمَا رَأَتْ مَلَكًا ، فَسَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ ،

“Apabila kalian mendengar ayam jantan berkokok di waktu malam, maka mintalah anugrah kepada Allah, karena sesungguhnya ia melihat malaikat.

وَإِذَا سَمِعْتُمْ نُهَاقَ الْحِمَارِ ، فَإِنَّهُ رَأَى شَيْطَانًا ، فَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ

Namun apabila engkau mendengar keledai meringkik di waktu malam, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari gangguan syaithan, karena sesungguhnya ia telah melihat syaithan”.

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dalam Shahih-nya no. 3303 dan Al-Adabul-Mufrad no. 1236 serta Muslim no. 2729; Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/01/waktu-waktu-mustajab-untuk-berdoa.html%5D

– Saat memejamkan mata orang yang meninggal dunia

Dari Ummu Salamah ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam masuk menemui Abu Salamah (yang telah meninggal) dimana matanya masih dalam keadaan terbuka. Lalu beliau memejamkannya, dan bersabda :

إِنَّ الرُّوحَ إِذَا قُبِضَ تَبِعَهُ الْبَصَرُ

“Sesungguhnya ruh itu jika dicabut akan diikuti oleh mata”.

Kemudian sejumlah orang dari anggota keluarganya ribut. Beliau pun lantas bersabda :

لا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلا بِخَيْرٍ فَإِنَّ الْمَلائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ

“Janganlah kalian mendoakan diri kalian kecuali kebaikan. Karena sesungguhnya malaikat mengamini apa yang kalian ucapkan…”.

[Diriwayatkan oleh Muslim no. 1920, Ahmad 6/297, dan Al-Baihaqiy 2/334; Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/01/waktu-waktu-mustajab-untuk-berdoa.html%5D

– Saat minum air zam-zam

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

زَمْزَمُ لِمَا شُرِبَ لَهُ

“Air zamzam itu menurut apa yang diinginkan peminumnya”.

[Diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 3062 dan Ahmad 3/357; dihasankan oleh Ad-Dimyaathiy dan dishahiihkan oleh Syaikh al-Albaaniy]

– Saat wukuf di arafah

خَيْرُ الدُّعَاءِ يَوْمَ عَرَفَةَ

“Sebaik-baik doa adalah doa (yang dipanjatkan) pada hari ‘Arafah”

[Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 5042, An-Nasa’iy dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah no. 805-806, Ibnu Majah no. 3881; dishahihkan oleh Al-Albaniy dalam Shahih Abi Dawud 3/239; Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/01/waktu-waktu-mustajab-untuk-berdoa.html%5D

– Saat bertemunya dua pasukan di medan perang

ثِنْتَانِ لَا تُرَدَّانِ أَوْ قَلَّ : مَا تُرَدَّانِ : ‪…‬ وَعِنْدَ الْبَأْسِ حِينَ يُلْحِمُ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Ada dua hal yang tidak akan ditolak atau jarang ditolak : “…..dan ketika perang saat dua pihak saling menyerang”

[Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 2540 dan dishahihkan oleh Al-Albaniy dalam Shahih Sunan Abi Dawud 2/108; Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/01/waktu-waktu-mustajab-untuk-berdoa.html%5D

Berkaitan dengan orang-orang yang mendoakan yang mustajab doanya

– Doa seorang musafir, seorang yang dizhalimi, dan doa orang tua kepada anaknya

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدَيْنِ عَلىَ وَلَدِهِمَا

“Ada tiga jenis doa yang mustajab (terkabul), tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian dan doa kedua orang tua kepada anaknya.”

(Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrod no. 32. Dikatakan hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Adabul Mufrod no. 24; http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3416-doa-orang-tua-pada-anaknya-doa-mustajab.html)

– Doa seorang bertaqwa

Allah berfirman:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (ibadah) dari orang-orang yang bertakwa”.

(Al-Maaida: 27)

– Doa seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

‎يَأْتِي عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ ، لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ

Akan datang kepada kalian Uwais bin ‘Amir bersama pasukan perang penolong dari penduduk Yaman dari Murod dari kabilah Qoron, ia pernah terkena penyakit albino kemudian sembuh kecuali sebesar ukuran dirham, ia memiliki seorang ibu yang ia berbakti kepada ibunya itu, seandainya ia (berdoa kepada Allah dengan) bersumpah dengan nama Allah maka Allah akan mengabulkan permintaannya. Maka jika engkau mampu untuk agar ia memohonkan ampunan kepada Allah untukmu maka lakukanlah

(HR Muslim 4/1969 no 2542)

– Doa orang-orang miskin/lemah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‎هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ.

“Kalian hanyalah mendapat pertolongan dan rezeki dengan sebab adanya orang-orang lemah dari kalangan kalian”.

[Hadits shahîh. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 2896) dari Sahabat Mush’ab bin Sa’d Radhiyallahu ‘anhu; http://www.almanhaj.or.id/content/2664/slash/0%5D

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

‎إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذَهِ اْلأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا: بِدَعْوَتِهِمْ، وَصَلاَتِهِمْ، وَإِخْلاَصِهِمْ.

“Sesungguhnya Allah menolong ummat ini dengan sebab orang-orang lemah mereka di antara mereka, yaitu dengan doa, shalat, dan keikhlasan mereka”.

[Hadits shahîh. Diriwayatkan oleh an-Nasâ`i (VI/45) dari Sahabat Mush’ab bin Sa’d Radhiyallahu ‘anhu. Lihat Shahîh Sunan an-Nasâ`i (II/669, no. 2978); http://www.almanhaj.or.id/content/2664/slash/0%5D

7. Berwudhu (dalam keadaan suci), menghadap kiblat, mengangkat tangan, dan menghadapkan tangannya ke arah langit

Di dalam hadits Abu Musa Al-Asy`ari Radhiallaahu anhu disebutkan bahwa setelah Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam selesai melakukan perang Hunain : ”Beliau minta air lalu berwudhu, kemudian mengangkat kedua tangannya; dan aku melihat putih kulit ketiak beliau”.

(Muttafaq’alaih).

Disebutkan dalam riwayat-riwayat yang shahiih (dari riwayat Ibn Abbas dan Ibn ‘Umar) bahwa Rasulullah mengangkat tangannya sejajar dengan pundaknya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا

“Sesungguhnya Rabb-mu (Allah) Ta’ala adalah maha pemalu lagi maha mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa“

[Shahiih li ghayrihi, Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 1488), at-Tirmidzi (no. 3556), Ibnu Majah (no. 3865) dan Ibnu Hibban (no. 876). Hadits ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, Ibnu Hajar dalam “Fathul Baari” (11/147), Ibnul Qayyim dan al-Albani (Mukhtasharul ‘uluw, hal. 75)].

8. Berdoa dengan suara yang rendah

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّهُ مَعَكُمْ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidaklah berdo’a kepada Rabb yang tuli, tidak pula ghaib, sesungguhnya Dia bersama kalian.”

(HR. Ahmad (dan ini lafazhnya), Muslim, dll.)

dalam riwayat bukhariy:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّهُ مَعَكُمْ إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ

“Wahai sekalian manusia, rendahkanlah diri kalian karena kalian tidak menyeru kepada Dzat yang tuli dan juga bukan Dzat yang jauh. Dia selalu bersama kalian dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Maha suci nama-Nya dan Maha Tinggi kebesaran-Nya”.

(HR. Bukhariy)

Al-Haafizh Ibn Katsir Råhimahullåh berkata,

“Oleh karena itu Alloh berfirman,

وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ

“dengan tidak mengeraskan suara”,

demikianlah ketika berdzikir (hendaknya tidak mengeraskan suara-pen), dan dzikir bukanlah berupa sahutan dan suara yang keras”

(Tafsirul Qur’anil Azhim)

9. Memperhatikan apa yang didoakannya

Yaitu ia MEMAHAMI apa yang sedang ia pinta. Jangan sampai seseorang meminta sesuatu, sedangkan ia tidak tahu maknanya, sehingga bisa jadi ia malah melaknat dirinya dengan doanya tersebut, atau bisa jadi doa tersebut mengandung unsur-unsur kesyirikan atau kekufuran wallahul musta’aan.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

‎إِنَّ الْمُصَلِّيَ يُنَاجِي رَبَّهُ فَلْيَنْظُرْ بِمَا يُنَاجِيْهِ بِهِ وَلاَ يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَي بَعْضٍ بِالْقُرْآنِ

Sesungguhnya orang yang shalat itu bermunajat kepada Penguasanya, maka hendaklah dia memperhatikan dengan apa yang dimunajatkan kepada-Nya. Dan janganlah sebagian kamu mengeraskan (bacaan) al-Qur’ân atas yang lain.

[Dishahîhkan al-Albâni dalam Shahîhul Jâmi’ no:1951]

Bukankah Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan

(an Nisaa’:43)*

*Ayat ini merupakan ayat kedua yang diturunkan Allah berkaitan dengan khamr, yang kemudian Allah menurunkan ayat ketiga sekaligus mengharamkan secara mutlak khamr dalam semua keadaan*

Ditafsirkan oleh Ibnu Katsir:

“Ini ungkapan paling baik untuk batasan mabuk, yaitu tidak mengetahui apa yang diucapkannya. karena orang yang sedang mabuk diwaktu shalat, akan mencampuradukkan bacaan, TIDAK MERENUNGKAN BACAANNYA, dan TIDAK KHUSYU’ dalam membacanya”

(Tafsir Ibn Katsir)

Rasulullah juga bersabda:

إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ فَإِنَّهُ إِذَا صَلَّى وَهُوَ يَنْعَسُ لَعَلَّهُ يَذْهَبُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبُّ نَفْسَهُ

“Jika salah seorang dari kalian mengantuk maka hendaklah ia tidur (terlebih dahulu) sehingga kantuknya hilang, karena jika ia sholat dalam keadaan mengantuk, mungkin dia ingin memohon ampun namun dia malah mencela dirinya sendiri.”

(HR. Ahmad, Bukhariy, Muslim (ini lafazhnya) dll)

Maka jangan sampai kita -sebagai orang yang SADAR dan TIDAK NGANTUK- malah LEBIH BURUK daripada orang yang mabuk dan ngantuk berat. Yang SAMA SEKALI tidak memahami apa yang kita baca, tidak merenungi apa yang kita baca dan tidak khusyu dalam membacanya…

10. Sebelum berdoa dimulai dengan memuja-muji Allah dan bershalawat kepada Nabiy

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam ketika meluruskan orang yang tergesa-gesa dalam berdoa (yaitu tanpa memuji Allah dan tanpa bershalawat kepada Rasulullah dalam awal doanya), bersabda:

‎إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ اللَّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ لْيُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ لْيَدْعُ بَعْدُ بِمَا شَاءَ

“Apabila salah seorang diantara kalian melakukan shalat maka hendaknya ia memulai dengan memuji Allah kemudian bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian berdoa setelah itu dengan doa yang ia kehendaki.”

(HR. Tirmidziy, dan beliau berkata bahwa hadits ini hasan shahiih)

Contoh-contoh pujian kepada Allah saat berdoa adalah:

Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam dan terdapat seorang laki-laki yang melakukan shalat, kemudian ia berdoa;

‎اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA BIANNA LAKAL HAMDU LAA ILAAHA ILLAA ANTA, Al MANNAANU, BADII’US SAMAAWAATI WAL ARDHI, YAA DZAL JALAALI WAL IKRAAM, YAA HAYYU YAA QAYYUUM

(ya Allah, aku memohon kepadaMu bahwa bagiMu segala pujian, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Pemberi, Pencipta langit dan bumi. Wahai Dzat yang memiliki keagungan, serta kemuliaan, wahai Dzat yang Maha Hidup, lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)).

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

‎لَقَدْ سَأَلَ اللَّهَ بِاسْمِهِ الْأَعْظَمِ الَّذِي إِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ

“Sungguh ia telah berdoa kepada Allah dengan namaNya yang agung, yang apabila dipanjatkan doa kepadaNya dengan nama tersebut maka Dia akan mengabulkannya, dan apabila Dia diminta dengan nama tersebut maka Dia akan memberinya.”

[HR. abu dawud, ibnu majah, nasaa-iy, ahmad, dll. (dengan sanad yang shahiih)]

ada seseorang berdoa:

‎اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Ya Allah! aku memintaMu, aku bersaksi bahwa Engkau adalah Allah yang tidak ada Ilah lain selainMu, Engkau Maha Esa dan tempat bergantung yang tidak melahirkan, tidak dilahirkan dan tidak ada satu sekutu pun bagiNya.

Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda:

‎وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَقَدْ سَأَلَ اللَّهَ بِاسْمِهِ الْأَعْظَمِ الَّذِي إِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada ditanganNya, ia meminta Allah dengan namaNya yang paling agung yang bila diminta dengannya pasti Ia akan memberi bila diseru dengannya pasti akan dikabulkan.”

(Shahiih, HR. Ahmad, dll. dishahiihkan syaikh al-albaaniy dan syaikh muqbil)

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

‎لَقَدْ سَأَلَ اللَّهَ بِاسْمِهِ الْأَعْظَمِ الَّذِي إِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ

“Sungguh dia telah meminta kepada Allah dengan nama-Nya yang Agung, yang apabila diminta dengan menyebut-Nya, pasti akan di beri dan apabila berdo’a dengan menyebut-Nya pasti akan di kabulkan.”

(HR. Ibnu Maajah, dishahiihkan syaikh al-albaaniy dalam shahiih ibni maajah no. 3125)

Rasulullah bersabda:

‎دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الْحُوتِ

“Doa Dzun Nuun (Nabi Yunus) ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah;

‎لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنْ الظَّالِمِينَ

LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHAALIMIIN (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya).

‎فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ

Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam suatu masalah melainkan Allah kabulkan baginya.”

(HR. At Tirmidziy, dishahiihkan syaikh al-albaaniy dalam shahiih at tirmidziy)

Contoh-contoh shalawat kepada Nabiy

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النبي الأمي وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ

Alloohumma sholli ‘alaa Muhammad, an-nabiyyil-ummiyyi wa ‘alaa aali Muhammad

“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad – nabi yang ummi – dan kepada keluarga Muhammad”

[HR. Abu Dawud no. 981; hasan]

ATAU

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Alloohumma sholli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shollaita ‘alaa aali Ibroohiim, wa baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarokta ‘alaa aali Ibroohiima fil-‘aalamiina innaka hamiidum-majiid

“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahiim. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahiim di seluruh alam. Sesunggunya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia”

[HR. Muslim no. 405].

11. Berdoa dengan memohon keselamatan (yaitu memohon kebaikan dan memohon dilindungi serta dijauhkan dari segala macam kejelekan)

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

‎وَمَا سُئِلَ اللَّهُ شَيْئًا يَعْنِي أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يُسْأَلَ الْعَافِيَةَ

“Dan tidak ada sesuatu yang lebih Allah cinta daripada ketika diri-Nya diminta keselamatan.”

[HR. Tirmidziy dengan sanad yang hasan, dihasankan syaikh al-albaaniy dalam shahiihul jaami’ (no. 3409)]

dari Abdul Aziz yaitu lbnu Shuhaib dia berkata; “Pada suatu ketika, Qatadah pernah bertanya kepada Anas; ‘Hai Anas, doa apa yang sering diucapkan Rasulullah? ‘

Anas menjawab;

‘Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sering membaca doa yang berbunyi:

‎اللَّهُمّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Allahumma aatinaa fid dunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa adzaaban naar

‘Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa api neraka.’

Perawi hadits ini berkata; ‘Ketika Anas hendak berdoa, maka ia senantiasa membaca doa tersebut. Dan ketika ia hendak membaca doa yang lain, maka ia selalu menyertakan doa tersebut.’

(HR. Muslim)

12. Berdoa dengan doa-doa yang terdapat didalam al qur-aan dan as-sunnah YANG SHAHIIH

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

‎أَمَّا بَعْدُ , فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ تَعَالَى , وَخَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Amma ba’d. Seseungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah. dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam.

(HR. Muslim)

Namun khusus ketika sujud, maka membaca ayat al qur-aan adalah TERLARANG, sebagaimana dalam sabda beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam:

أَلَا وَإِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا

Ketahuilah bahwa aku DILARANG membaca Al-Qur’an ketika ruku’ dan sujud.

(HR Muslim [479])

13. Berdoa tiga kali atau lebih yang berjumlah ganjil

Anas berkata: “Beliau/Nabi kalau berdoa -mengulanginya- sebanyak tiga kali.” dan Jabir berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendoakan keberkahan bagi kuda-kuda suku Ahmas beserta pasukannya sebanyak lima kali.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Berkata Imam Ibnu Hajar: (Berdoa) 3 kali itu ditafsirkan sebagai kebiasaan beliau secara umum. Kejadian ini menunjukkan bahwa kondisinya memang menuntut hal itu -yaitu mendoakan mereka lebih dari 3 kali- dikarenakan jasa mereka yang sangat besar dalam memberantas kekafiran dan membela Islam.

(Fath al-Bari [7/673] pdf).

14. Berdoa dengan bertawassul

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَابْتَغُواْ إِلَيهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُواْ فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diti kepadaNya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.”

(Qs.Al-Maidah:35)

Mengenai ayat diatas Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu berkata, ”Makna wasilah dalam ayat tersebut adalah al-qurbah (peribadatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah).”

(Tafsir Ibnu Jarir ath-Thabari IV/567 dan Tafsir Ibnu Katsir III/103)

Para ulama menjelaskan tawassul ada tiga cara untuk melakukan tawassul yang syar’iy:

(1) Bertawassul dengan NAMA-NAMA dan SIFAT-SIFAT ALLAH
(2) Bertawassul dengan amalan shalih,
(3) Bertawassul dengan memintakan doa orang-orang shalih yang masih hidup dan hadir (berada dihadapan kita)

Adapun bertawassul dengan nama-nama dan sifat Allah, dalilnya:

Allah berfirman:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا

Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu

(al A’raaf: 180)

Rasulullah berdoa:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ،

yaa hayyu yaa qåyyuum, bi råhmatika astaghiits

Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan.

أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

ash-lihliy sya’niy kullah, wa laa takilniy ila nafsiy thårfata ‘ayn

“perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekalipun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dariMu).”

[Hasan – Diriwayatkan oleh Al-Haakim (1/545) dan Ibnus-Sunniy (no. 48); dari Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu. Al-Haakim berkata : “Shahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim”. Dan disepakati oleh Adz-Dzahabiy. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Naashir dalam Shahih At-Targhiib wat-Tarhiib (1/417/661)]

Adapun bertawassul dengan amalan shalih

Ayat diatas (QS al Maa-idah 35), ditafsirkan oleh Qatadah: ”Mendekatlah kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengerjakan amalan yang di ridhoi-Nya.”

(Tafsir Ibnu Jarir ath-Thabari IV/567 dan Tafsir Ibnu Katsir III/103)

Allah berfirman:

رَّبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ

Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Rabbmu”, MAKA KAMI PUN BERIMAN. Ya Rabb kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.

(Aali Imraan: 193)

Dalam ayat tersebut Allah memfirmankan doa-doa orang yang beriman, yang dalam doanya mereka bertawassul dengan keimanan mereka, sebelum mereka menyebutkan hajat mereka.

(Lihat penjelasan syaikh Muhammad Jamil Zainu dalam firqatun najiyah)

dalilnya dalam sunnah yaitu hadits tentang tiga orang yang terperangkap dalam gua, yang mereka memohon kepada Allah dengan perantara amal mereka. (Lihat HR. Bukhori: 5517)

Adapun bertawassul dengan perantara orang-orang shalih (yang ia MASIH HIDUP dan BERADA DIHADAPAN KITA)

Yaitu firmanNya:

قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ

Mereka (saudara-saudara yusuf) berkata: “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)”.

(Yusuf: 97)

Dan juga hadits Ukasyah tentang golongan yang masuk surga tanpa hisab dan adzab, dimana Ukasyah berkata: Ukasyah berkata; “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikanku bagian mereka. Lalu beliau mendoakannya, kemudian yang lain berdiri seraya berkata; Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikanku bersama mereka.” (HR. Bukhariy dan Muslim)

Adapun berdoa DISISI KUBURAN, maka ini BID’AH, karena tidak ada PARA SHAHABAT yang berdoa disisi kuburan nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam. Adapun PERKATAAN ulama, yang “menganjurkan” hal ini, maka tidak perlu digubris, karena tidak ada dalilnya sama sekali.

Adapun berdoa dengan perantara KEDUDUDKAN NABI, maka inipun BID’AH. hadits-hadits yang mereka jadikan dalil dalam hal ini adalah DHA’IIF.

Adapun berdoa dengan berdoa melalui perantara kepada orang yang sudah mati, maka ini KEBID’AHAN1. Hal seperti tidak diajarkan serta tidak dipraktekkan oleh Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam, tidak pula oleh para shahabatnya.

15. Berdoa dengan dimulai dari diri sendiri sebelum mendoakan orang lain

Allah memfirmankan doa kekasihNya Ibrahim ‘alayhish shalatu was salaam:

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“Artinya : Wahai Rabb kami, berikanlah ampunan UNTUKKU dan kedua orang tuaku. Dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab”

[Ibrahim : 41]

Dalam ayat diatas Nabi Ibrahim ‘alayhis salaam mendahulukan doa ampunan untuk dirinya kemudian baru kepada orang tuanya. Dalam beberapa hadits shahiih juga Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam terlebih dahulu mendoakan dirinya sebelum mendoakan para shahabatnya yang meminta doa kepadanya.

16. Tidak berlebih-lebihan dalam berdoa

Dari Abu Nu’amah bahwasanya Abdullah bin Mughaffal Radhiyallahu ‘anhu mendengar anaknya membaca doa : “Ya Allah berilah kami istana putih di sisi kanan Surga”.

Maka dia berkata kepada anaknya : “Wahai anakku mintalah kepada Allah Surga dan berlindunglah kepadaNya dari api Neraka, sebab saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

سَيَكُونُ بَعْدِي قَوْمٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَعْتَدُونَ فِي الدُّعَاءِ وَالطَّهُورِ

‘Akan ada kaum dari umat ini yang sangat berlebihan dalam berdoa dan bersuci’

[Musnad Ahmad 4/87. Sunan Abu Daud, kitab Thaharah bab Israf Fil Ma’ 1/24. Ibnu Majah, kitab Do’a 3/349, Hakim, Al-Mustadrak 1/162. Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih Sunan Ibnu Majah 2/331]

Termasuk berlebihan dalam beroda adalah: memohonkan suatu yang mustahil (yaitu agar menjadi nabi), berdoa dengan rinci (seperti contoh diatas), mengeraskan/meninggikan suara.

(an Nubadz hal. 75; fiqhud du’aa’, hal. 135-138; dari Doa dan Wirid Ustadz Yazid)

17. Tidak bersajak dalam berdoa

Ibnu Abbas pernah berkata kepada `Ikrimah: “Lihatlah sajak dari do`amu, lalu hindarilah ia, karena sesungguhnya aku memperhatikan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam dan para shahabatnya tidak melakukan hal tersebut”.(HR. Al-Bukhari).

18. Tidak berdoa untuk memutus silarahmi atau perbuatan dosa

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

‎لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ

“Doa seseorang senantiasa akan dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk perbuatan dosa ataupun untuk memutuskan tali silaturahim.”

(HR. Muslim)

19. Larangan berdoa kejelekan kepada diri sendiri, anak, pembantu, harta

Rasulullah bersabda:

‎لاَ تَدْعُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ،

“Janganlah kalian mendoakan keburukan menimpa dirimu,

‎وَلاَ تَدْعُوْا عَلَى أَوْلاَدِكُمْ،

janganlah kalian mendoakan keburukan menimpa anak-anakmu,

‎ وَلاَ تَدْعُوْا عَلَى أَمْوَالِكُمْ،

janganlah kalian mendoakan keburukan menimpa hartamu,

–dalam riwayat abu dawud dengan sanad yang shahiih, ada tambahan–

‎وَلاَ تَدْعُوْا عَلَى خَدَمِكُمْ

janganlah kalian mendoakan keburukan menimpa pembantu-pembantumu

–(HR. Abu Dawud)–

‎لاَ تُوَافِقُوْا مِنَ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيْهَا عَطَاءً فَيَسْتَجِيْبَ لَكُمْ.

agar doa kalian tidak bersamaan dengan waktu dikabulkannya doa dari Allah sehingga doa kebu-rukan itu dikabulkan.”

(HR. Muslim)

20. Rajin berdoa dalam keadaan sempit maupun lapang

Rasulullah bersabda:

‎تَعَرَّفْ إِلىَ اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ

Kenalilah Allah disaat lapang, niscaya Allah akan mengenalimu disaat sempit.

(HR. Tirmidziy, dikatakan syaikh al-Albaaniy “Shahiih li ghayrihi”)

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَن سَرَّهُ أنْ يَسْتَجِيبَ اللهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ والْكُرَبِ فَليُكْثِرِ الدُّعَاءَ في الرَّخَاءِ

“Siapa yang ingin dikabulkan doanya ketika sempit dan susah, maka hendaknya ia memperbanyak doa saat dalam keadaan lapang dan senang”.

(HR. at-Tirmidzi no.3382, al-Hakim no. 1997, ia berkata: Sanadnya Shahih, dan Abu Ya’la no. 6396, dan dihasankan oleh Syaikh Nashiruddin al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi no. 2693).

20. Tidak tergesa-gesa dalam berdoa

Rasullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

‎يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

“(Do’a) kalian akan diijabahi selagi tidak terburu-buru, yaitu mengatakan; ‘Aku telah berdo’a, namun tidak kunjung diijabahi.’

(HR. Bukhariy)

21. Menjauhi seluruh penghalang-penghalang doa.

(akan dijelaskan ditempat lain)

Semoga bermanfaat

Catatan Kaki

  1. Ketahuilah, dalam hal ini maka ini KHILAF PARA ULAMAA’:- Sebahagian ulamaa’ hanaabilah, berpendapat hal ini termasuk tawassul yang disyari’atkan (tidak bid’ah dan tidak syirik)apa dalil mereka? qiyas. Mereka mengqiyaskan orang yang masih hidup dengan yang sudah mati. Mereka juga mengqiyaskan Nabi dan orang-orang shalih. Maka dijawab, dua qiyas ini baathil (baca: qiyas ma’al faariq, yaitu menggunakan dua hal yang tidak dapat diperbandingkan.) Dan bahkan termasuk MADZHAB SYAFI’IY (sebagaimana dikatakan ibnu katsiir dalam tafsirnya), adalah TIDAK ADA QIYAS DALAM MASALAH IBADAH.

    – Para ulamaa’ yang lain, berpendapat bahwa hal ini BID’AH dan SYIRIK.

    Kenapa mereka mengatakan hal ini bid’ah?

    karena para shahabat dahulu selepas wafatnya nabi, maka tidak diriwayatkan dari mereka yang bertawassul kepada nabi dalam doa-doa mereka. Kalaupun ada riwayatnya, maka ini riwayat-riwayat dengan SANAD YANG LEMAH, atau bahkan ada yang PALSU, atau bahkan ada yang TIDAK ADA SANAD-nya. Bahkan yang shahiih, ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu bertawassul kepada AL-ABBAAS (paman nabi) YANG MASIH HIDUP saat itu. Kalaulah bertawassul kepada nabi itu BENAR PEMAHAMANNYA, tentulah ‘Umar akan mendahulukan nabi daripada pamannya! Dan kalaulah para shahabat yang lain berpemahaman demikian, maka tentu mereka akan menyelisihi/mengingkari umar, karena kita lebih berhak mendahulukan nabi daripada selainnya. AKAN TETAPI, tidak ada para shahabat yang berpemahaman demikian, bahkan mereka menyetujui perbuatan umar tersebut!

    Kenapa dikatakan Syirik?

    Karena perkataaan “mohonkanlah kepada Allah” adalah SERUAN dan SERUAN bermakna “DOA”. barangsiapa yang menyeru/berdoa kepada selain Allah, maka ia telah melakukan kesyirikan.

    – Pendapat ketiga, hal ini BID’AH (lihat alasan diatas), TAPI BUKAN SYIRIK. dan inilah yang benar

    Alasannya? Tidak ada satupun perkataan diatas yang bermakna PENYEMBAHAN kepada orang yang sudah wafat tersebut! Adapun perkataan “menyeru” maka kita jawab: sesungguhnya seruan itu UMUM. Ada yang bermakna PENYEMBAHAN, adapula yang bermakna BUKAN PENYEMBAHAN.

    Adapun tawassul diatas, maka ini tidak ada bentuk penyembahan didalamnya. Sedangkan yang dimaksudkan oleh ayat diatas adalah seorang menyembah kepada selain Allah, kemudian agar sesuatu/seseorang yang mereka sembah tersebut dapat membantu mereka untuk lebih dekat disisi Allah atau membantu mengangkat derajat mereka disisi Allah. Seakan-akan orang-orang yang mereka sembah itu (meskipun malaikat atau nabi), memiliki hak untuk disembah, padahal tidak. Dan juga mereka mengira, dengan menyembah nabi/malaikat, adalah cara pendekatan diri kepada Allah; padahal tidak. Dan juga mereka mengira, dengan menyembah nabi/malaikat, maka kelak nabi/malaikat akan memberikan syafa’at kepada mereka disisi Allah; padahal tidak demikian.

    Tapi perkataan sebagian kaum muslimin yang berkata kepada penghuni kubur: “doakan aku agar Allah (begini dan begitu)” maka ini bukanlah bentuk penyembahan mereka kepada orang shalih tersebut, yaitu dengan maksud beribadah kepada mereka; bukan. Hal ini adalah KESALAHPAHAMAN mereka, bahwa orang yang mati dari kalangan nabi atau orang shalih, adalah termasuk tawassul yang disyari’atkan. Oleh karenanya hal ini dikatakan sebagai bid’ah karena tidak sesuai dengan pemahaman dan pengamalan Rasuulullaah dan para shahabatnya. Adapun mengatakan bahwa seruan tersebut adalah seruan penyembahan. Maka ini kekeliruan.

    Terkecuali, jika mereka memiliki salah satu dari tiga keyakinan berikut:

    “Jika amalan ini diiringi keyakinan syafaat syirkiyyah barulah amalan ini berstatus syirik besar pembatal Islam:

    Pertama, seorang yang menjadikan antara dirinya dengan Allah perantara dalam doa dan dia berkeyakinan bahwa Allah itu tidak akan menjawab doa orang yang memanjatkan doa kepada-Nya secara langsung karena harus ada perantara antara Allah dengan makhluk dalam doa.

    Kedua, atau menyakini bahwa Allah itu menjawab doa si perantara karena Allah itu membutuhkan perantara

    Ketiga, atau menyakini bahwa si perantara itu memiliki hak yang wajib Allah tunaikan”

    (Mudzakkirah al Aqidah al Islamiyyah hal 70-71; kutip dari ustadzaris)

    Wallaahu a’lam

sumber : http://abuzuhriy.com/agar-doa-kita-dikabulkan-allah/

Advertisements